Jumat, 18 Januari 2008

Ternyata Mudah Untuk Mendapat Kegembiraan

Ada seseorang saat melamar kerja memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh sang interviewer, orang itu pun mendapatkan pekerjaan tersebut.Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil diajak bekerja di tempatnya.Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.Seorang anak berkata kepada ibunya: Ibu hari ini sangat cantik.Ibu menjawab: Mengapa?Anak menjawab: Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.Petani menjawab: Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku?Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?Ada yang menjawab: Cari mulai dari bagian tengah?Ada pula yang menjawab: Cari di rerumputan yang cekung ke dalam?Dan ada yang menjawab: Cari di rumput yang paling tinggi.Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat, Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku?Katak di pinggir jalan menjawab: Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah?Beberapa hari kemudian katak sawah menjenguk katak pinggir jalan dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita. Hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.Ada yang bertanya: Mengapa engkau begitu santai?Dia menjawab sambil tertawa: Karena barang bawaan saya sedikit?Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

Kamis, 17 Januari 2008

penjual pisang dan anaknya

Malam itu sekitar pukul delapan, aku bersama seorang tetanggaku sedang asyik ngobrol di taman depan rumah. Kami membicarakan banyak hal, dari perekonomian yang semakin sulit, hobi, kebijakan-kebijakan pemerintah, dll. Tiba-tiba dari ujung jalan, kami melihat seorang bapak memikul dua buah keranjang berisi pisang. ”Pisang Pak, pisang Pak, ada pisang ambon, raja, dan barangan. Pisangnya matang di pohon lho”, kata penjual pisang tersebut. Aku dan temanku keheranan melihat seorang penjual pisang masih berkeliling pada malam hari seperti ini. Yang lebih mengundang pertanyaan, ia membawa anak pula yang masih usia sekolah. ”Malam-malam begini masih jualan Pak?“ tanyaku. “Ya, pisangnya belum habis”, jawab si tukang pisang. ”Ini anak Bapak?” tanyaku lagi. “Ya, ini anak bungsuku”. ”Bapak tidak kasihan pada anak Bapak, malam-malam begini kan harus belajar” sambung temanku. ”Tadi sore ia sudah belajar kok.” ”Tapi besok kan ia harus sekolah,” kataku lagi. ”Bapakku buta, jadi aku harus mengantarnya jika berjualan. Kalau pagi Bapak berjualan di pasar, tetapi kalau dagangannya tidak habis, maka aku akan menemaninya berjualan keliling pada malam hari”, jawab anaknya. Kami berdua terhenyak dan rasa iba segera memenuhi hati kami. Aku dan temanku sepakat membeli semua pisang yang dijualnya. "Berapa harga pisang semuanya Pak? " tanyaku. "Satu sisir pisang ambon, dua sisir pisang raja, dan dua sisir pisang barangan, semuanya dua puluh lima ribu saja”. Aku mengeluarkan uang tiga puluh ribu dari dompetku dan memberikan kepada tukang pisang tersebut. "Kembaliannya buat Bapak saja”, kataku. ”Maaf saya penjual pisang, bukan pengemis”, jawabnya. ”Ini kembalinya lima ribu,” sambungnya lagi. Ia pun mengajak anaknya agar segera pergi. Terbersit pertanyaan dalam hatiku, ternyata masih ada juga orang jujur yang berusaha hidup hanya dari apa yang menjadi bagiannya, dan kejujuran itu datang dari seorang penjual pisang yang buta. Seandainya hati kita bersih dari keserakahan, maka tidak akan ada orang yang korupsi, tidak ada orang yang memark-up atau menaikkan harga barang dengan maksud mengambil keuntungan gelap, dan tidak ada orang yang memberi makan keluarganya dengan uang suap. Kita belajar tiga hal dari penjual pisang yang buta itu: (1) prinsipnya untuk tidak mengambil apa yang bukan haknya; (2) tidak memanfaatkan kekurangannya demi mendapatkan betas kasihan orang; serta (3) kerajinannya bekerja dan keuletannya berusaha meskipun buta, sementara orang-orang yang normal mungkin sudah beranjak ke tempat tidur. Kiranya kita semakin bijak menjalani hidup ini dan senantiasa mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan.