Kamis, 17 Januari 2008

penjual pisang dan anaknya

Malam itu sekitar pukul delapan, aku bersama seorang tetanggaku sedang asyik ngobrol di taman depan rumah. Kami membicarakan banyak hal, dari perekonomian yang semakin sulit, hobi, kebijakan-kebijakan pemerintah, dll. Tiba-tiba dari ujung jalan, kami melihat seorang bapak memikul dua buah keranjang berisi pisang. ”Pisang Pak, pisang Pak, ada pisang ambon, raja, dan barangan. Pisangnya matang di pohon lho”, kata penjual pisang tersebut. Aku dan temanku keheranan melihat seorang penjual pisang masih berkeliling pada malam hari seperti ini. Yang lebih mengundang pertanyaan, ia membawa anak pula yang masih usia sekolah. ”Malam-malam begini masih jualan Pak?“ tanyaku. “Ya, pisangnya belum habis”, jawab si tukang pisang. ”Ini anak Bapak?” tanyaku lagi. “Ya, ini anak bungsuku”. ”Bapak tidak kasihan pada anak Bapak, malam-malam begini kan harus belajar” sambung temanku. ”Tadi sore ia sudah belajar kok.” ”Tapi besok kan ia harus sekolah,” kataku lagi. ”Bapakku buta, jadi aku harus mengantarnya jika berjualan. Kalau pagi Bapak berjualan di pasar, tetapi kalau dagangannya tidak habis, maka aku akan menemaninya berjualan keliling pada malam hari”, jawab anaknya. Kami berdua terhenyak dan rasa iba segera memenuhi hati kami. Aku dan temanku sepakat membeli semua pisang yang dijualnya. "Berapa harga pisang semuanya Pak? " tanyaku. "Satu sisir pisang ambon, dua sisir pisang raja, dan dua sisir pisang barangan, semuanya dua puluh lima ribu saja”. Aku mengeluarkan uang tiga puluh ribu dari dompetku dan memberikan kepada tukang pisang tersebut. "Kembaliannya buat Bapak saja”, kataku. ”Maaf saya penjual pisang, bukan pengemis”, jawabnya. ”Ini kembalinya lima ribu,” sambungnya lagi. Ia pun mengajak anaknya agar segera pergi. Terbersit pertanyaan dalam hatiku, ternyata masih ada juga orang jujur yang berusaha hidup hanya dari apa yang menjadi bagiannya, dan kejujuran itu datang dari seorang penjual pisang yang buta. Seandainya hati kita bersih dari keserakahan, maka tidak akan ada orang yang korupsi, tidak ada orang yang memark-up atau menaikkan harga barang dengan maksud mengambil keuntungan gelap, dan tidak ada orang yang memberi makan keluarganya dengan uang suap. Kita belajar tiga hal dari penjual pisang yang buta itu: (1) prinsipnya untuk tidak mengambil apa yang bukan haknya; (2) tidak memanfaatkan kekurangannya demi mendapatkan betas kasihan orang; serta (3) kerajinannya bekerja dan keuletannya berusaha meskipun buta, sementara orang-orang yang normal mungkin sudah beranjak ke tempat tidur. Kiranya kita semakin bijak menjalani hidup ini dan senantiasa mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan.

1 komentar:

BN_taranangin mengatakan...

hohoohho... test...